Minggu, 19 Januari 2020

STUDI KASUS BESERTA SOLUSI 3.0


STUDI KASUS TENTANG PERSELISIHAN ANTARA OJEK ONLINE DAN OJEK PANGKALAN 

Kontroversi Antara Gojek dengan Ojek Konvensional
Kontroversi Antara Gojek dengan Ojek Konvensional

Kemacetan membuat keuntungan pasar Gojek berkembang besar. Meski tarif yang tak menentu, banyak masyarakat mengandalkan ojek sebagai transportasi sehari-hari.
Ojek konvesional adalah sebuah komunitas, sebuah paguyuban para tukang ojek. Disana ada aturan-aturan yang tak tertulis yang berlaku seperti ada antrian, ada bagi-bagi rejeki dan ada pelanggan-pelanggan lokal. Sering kali keributan terjadiketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dengan pangkalan tersebut.
Tahun 2011, Gojek (Ojek Online) hadir di indonesia untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Manajemen Gojek menerapkan sistem bagi hasil dengan pengemudi ojek yang berada dibawah naungannya. Pembagiannya ada 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20% untuk Gojek. Saat ini anggotanya sudah mencapai sekitar 1000-an. 
Gojek menawarkan 4 jasa layanan yaitu instant Courier (pengantar barang), Transport (jasa angkutan), Shopping (belanja) dan Corporate (kerjasama perusahaan untuk jasa kurir) yang menekankan keunggulan dalam kecepatan, inovasi dan interaksi sosial. Para pengguna Gojek, harus mengunduh gojek Mobile App dari hp mereka, baru mereka bisa memesan layanan Gojek. Para Gojek dengan mudah mendapatkan konsumen karena sudah mengandalkan kemajuan teknologi, tanpa harus nongkrong menunggu.
Gojek kemudian merebat menjadi salah satu kata topik yang bermunculan di berbagai media. Tetapi, yang lebih mengemuka saat ini adalah adanya konflik antara Gojek dengan ojek konvesional. Keberadaan layanan gojek di kota Semarang mulai memicu konflik. Suara penolakan terhadap Gojek mulai mengalir dari para pengemudi ojek konvesional. Konflik yang terjadi antara pengemudi Gojek dengan ojek konvesional karena sumber ekonomi. Hal ini terjadi karena adanya kecemburuan sosial oleh pengemudi ojek konvesional, mereka merasa sumber memperoleh uang mereka diambil oleh pengemudi ojek.
Namun dengan adanya ojek online banyak masyarakat yang beralih untuk menggunakan ojek online. Saya mencari tahu mengapa masyarakat lebih memilih menggunakan layanan ojek online dibanding ojek konvesional
Tarif lebih terjangkau
Tarif gojek ditentukan oleh aplikasi yang sudah diatur dari perusahaan ojek online tersebut yang tidak membuat rugi pengemudi dan pelanggan.
Pelayanan yang profesional
Selain menyediakan helm bagi pengendara dan penumpang (lengkap dengan masker), gojek juga melengkapi supir-supirnya dengan perangkat yang menunjang pemesanan dan aktivitas lainnya
Diskon dan harga promosi
Semua orang suka diskon, ini yang digunakan oleh Gojek untuk menarik masyarakat
Tidak perlu ke pangkalan
Aplikasi gojek memungkikan pengguna untuk memesan ojek tanpa harus ke pangkalan. Mereka bisa mendapatkan ojek dimanapun dan kapan pun.
Tak lama, akhir akhir ini masyarakat di hebohkan dengan adanya demo. ojek konvesional mengadakan demo di sekitar stasiun poncol Semarang, pengemudi ojek online yang ikut dengan perusahaan gojek untuk segera keluar dari perusahaan ojek online tersebut. Semakin lama semakin memanas, sehingga ada batasan untuk ojek online mengantar penumpang ke staisun poncol. 
Sistem batas mengantar penumpang ke sarana transportasi umum ini tidak hanya berlaku di stasiun saja, bahkan seperti di bandara dan terminal pun diberlakukan sistem yang sama hingga saat ini. Konflik seperti ini justru membahayakan penumpang tidak salah apa apa namun terkena dampak dari konflik ini.
Lebih jauh bahkan di dalam realitas banyak Gojek yang menghadapi serangan secara fisik dengan penghadangan ketika memasuki wilayah tertentu. Disamping itu mulai bermunculan baliho-baliho berisik penolakan dimasukinya wilayah oleh Gojek. Terjadinya penentangan ojek konvesional ini berpontensi membuka konflik di antara mereka jika tidak dicegah dan dicarikan jalan keluarnya. Oleh karena itu pemerintah seharusnya tidaklah terlambat hadir menyelesaikannya.pemerintah dalam konteks ini dapat berperan sebagai penengah dan bertindak adil di antara yang berseteru ini dengan tujuan mencari solusi keseimbangan kepentingan antara pihak-pihak yang berbeda ini.




SOLUSI UNTUK KONFLIK TERKAIT
1.      Perlunya pengawasan dan keamanan pada daerah daerah tertentu yang dapat memicu terjadinya konflik perselisihan bahkan perlawanan antara ojek online dan ojek pangkalan.
2.      Perlunya ditingkatkan cara berpikir yang positif dalam bekerja sebagai driver ojek sehingga tidak adanya rasa iri ataupun syirik,sehingga dapat membuat kebersamaan perdamaian dalam berkerja sebagai driver ojek online maupun pangkalan.
3.      Perlunya sosialisasi dari pemerintah ataupun RW mengenai ojek online agar para pengemudi ojek pangkalan tidak timbul rasa iri
4.      Perlunya juga edukasi tentang manajemen emosi, agar kedua belah pihak tidak gampang tersulut emosi
5.      Meyakinkan pada pengemudi ojek pangkalan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur tidak perlu iri hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STUDI KASUS BESERTA SOLUSI 4.0

Potret Kehidupan Warga Miskin Jl. Karees Sapuran Rt 04/02 Kel. Samoja Kec. Batununggal Kab. Bandung Kemiskinan memang suatu hal yang s...