Nama :
Ali Hasan Alaydroes
NPM : 20319494
Kelas : 1TB04
Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan : Arsitektur
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat dan karunia- Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Ilmu
Sosial Dasar ini dengan baik meskipun masih terdapat banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Ibu Ditiya Himawati, SE.,MM
selaku dosen mata kuliah Ilmu Sosial Dasar Universitas Gunadarma yang telah
memberikan tugas ini kepada saya.
Saya
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Saya menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya
saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan
saya mohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini
di waktu yang akan datang.
Depok, 17 Januari 2020
Penyusun
DAFTAR ISI PADA MATERI ISD
9. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan
9.1. Ilmu Pengetahuan
- Menjelaskan pengertian ilmu pengetahuan dan
4 sikap yg ilmiah
9.2. Teknologi
- Menjelaskan pengertian teknologi
- Menyebutkan ciri-ciri fenomena teknik pada
masyarakat
- Menyebutkan ciri-ciri teknologi barat
9.3. Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Nilai
- Menjelaskan pengertian ilmu
pengetahuan,teknologi dan nilai
9.4. Kemiskinan
- Menjelaskan pengertian kemiskinan
- Menyebutkan ciri-ciri manusia yang hidup di
bawah garis kemiskinan
- Menyebutkan fungsi kemiskinan
10. Agama dan Masyarakat
10.1. Fungsi agama
- Menjelaskan fungsi agama dalam masyarakat
dan menyebutkan dimensi komitmen agama
10.2. Pelembagaan agama
- Menyebutkan 3 tipe kaitan agama dengan
masyarakat
- Menjelaskan ttng pelembagaan agama
10.3. Agama ,konflik dan masyarakat
- Memberikan contoh dan kaitannya tentang
konflik yang ada dalam agama dan masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
BAB 9. ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN
KEMISKINAN
9.1 ILMU PENGETAHUAN
Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah seerhana
karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemology)
di antaranya pandagan aristoteles, bahwa pengetahuan
merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Menurut decartes ilmu penegtahuan merupakan
serta budi: oleh bacon dan david Home diartikan sebagai pengalaman
indera batin: menurut Immanuel kant
pengetahuan merupakan persatuan antara budi pengerti dan pengalaman: dan teori phyroo mengatakan bahwa tidal ada
kepastian dalam pengetahuan .
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan,
dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam
manusia . Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi
merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan
dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam
bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena
manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.
Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi.
Untuk mencapai suatu penegtahuan yang ilmiah dan objektif
diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melainkan
mendukung dalam mencapai tujuan ilmu itu sendiri sehingga benar-benar objektif,
terlepas prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang bersifat ilmiah
itu meliputi empat hal :
Ø Tidak ada perasaan yang bersifat pamrrig sehingga
mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif.
Ø Selektif, artimya mengadakan pemilihan terhadap problema
yang dihadapi supaya didukung oleh fakta dan gejala dan mengadakan pemiliham
terhadap hipotesis yang ada.
Ø Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat
diubahy maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai
ilmu.
Ø Merasa pasti bahwa setiap pendapat teori maupun aksioma
terdahulun telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan
kembali.
9.2 TEKNOLOGI
1. Pengertian Teknologi
Teknologi (bahasa
Inggris: technology) adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang
yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Penggunaan teknologi oleh
manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.
Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan
ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia
dalam bepergian dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi
terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah
memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk
berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi
digunakan untuk tujuan damai. Pengembangan senjata penghancur yang semakin
hebat telah berlangsung sepanjang sejarah dari pentungan sampai senjata nuklir.
2.
Ciri-ciri fenomena teknik di masyarakat.
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut
Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi yang berkembang dengan pesat
meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya bidang teknik digambarkan
sebagaia berikut :
1. Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
2. Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3. Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.
1. Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
2. Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3. Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.
Alvin Tofler (1970) mengumpamakan teknologi
itu sebagai mesin yang besar atau sebuah akselarator (alat pemercepat) yang
dahsyat, dan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakarnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.
3.
Ciri-ciri teknoliogi barat.
Teknologi tepat guna atau appropriate technology adalah
pengembangan teknologi yang sesuai dengan situasi budaya dari geografis
masyarakat penentuan teknologi sendiri sebagau suatu identitas budaya setempat
serta menggunakan teknologi dalam proses
produksi untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan dasar dan bukan
barang-barang objek ketamakan.
Teknologi tepat guna sering tidak berdaya menghadapi
teknologi barat yang sering masuk dengan
ditunggangi oleh segelintir orang atau kelompok yang bermodal besar. Ciri-ciri
teknologi bafrat tersebut adalah:
§ Serba intensif dalam segala hal, seperti modal,
organisasi, tenaga kerja dan lain-lain, sehingga lebih akrab dengan kaum elit
daripada dengan buruh sendiri .
§ Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat
melestarikan sifat keterbangunan.
§ Kosmologi atau pandangan teknologi barat adalah:
mengangap dirinya sebagai pusat yang lain feriferi, waktu berkaitan dengan
kemajuan secara linier, memahami realitas secara ter[isah dan berpandangan
manusia sebagai tuan atau jarak dengan alam.
9.3
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Nilai
Ilmu
pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan denga nilai moral. Hal ini besar
perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kegiatan kebijaksanaan
pembagunan yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Penerapan
ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikannya masalah
nilai. moral, atau segi-segi manusiawinya. Keadaan demikian tidak luput dari
falsafah pembangunannya itu sendiri. Dalam menentukan pilihan antara orientasi
produksi dengan motif ekonomi yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut
segi-segi kemanusiaan yang terkadang harus dibayar lebih mahal.
Ilmu
pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral.TEKNOLOGI DAN NILAI Hal ini besar
perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaanpembangunan, yang
pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan danteknologi. Penerapan ilmu
pengetahuan khususnya teknologi sering kurangmemperhatikan masalah nilai, moral
atau segi-segi manusiawinya.Perdebatan sengit dalam menduduk perkarakan nilai
dalam kaitannya dengan ilmuteknologi. Sehingga kecenderungan sekarang ada dua
pemikiran, yaitu :
§ Yang menyatakan ilmu bebas nilai.2.
§ Yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
Secara garis besar,adalah sebagai berikut:
§ Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur tentang
pekerjaan hukum sebab-akibat dalam suatu golongan masalah untuk mengenali
kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.
§ Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222)
berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan
kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang
saling berkaitan satu sama lainnya untuk mempermudah pekerjaan manusia.
§ Nilai adalah
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan
manusia.
9.4
Kemiskinan
1.
Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya
dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian,
tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum
pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh
tiga hal :
1) Persepsi
manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2) Posisi
manusia dalam lingkungan sekitar
Kebutuhan objektif manusia untuk bisa
hidup secara manusiawi Persepsi manusia
terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan, adat istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki.
Kemiskinan menurut orang lapangan (umum)
dapat dikategorikan kedalam 3 (tiga) unsur:
a.
Kemiskinan yang disebabkan handicapbadaniah ataupun mental seseorang;
b.
Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam, dan;
c. Kemiskinan buatan (buatan manusia terhadap
manusia pula yang disebut kemiskinanstruktural : struktur ekonomi, politik,
sosial, maupun kultur).
disimpulkan,bahwa kemiskinan adalah keadaan
dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti
makanan,pakaian,tempat berlindung,dan air minum,hal ini berhubungan eratdengan
kualitas hidup.Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan kehormatan
yang layak sebagai warga Negara.Kemiskinan merupakan masalah global.
2.
Ciri-Ciri Manusia yang Berada Di Bawah Garis Kemiskinan
Dasar ukuran yang hidup di bawah garis
kemiskinan memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :
1) Tidak memiliki
faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan.b.
2) Tidak memiliki kemungkinan untuk
memperoleh asset produksi dengan kekuatansendiri, seperti untuk memperoleh
tanah garapan atau modal usaha.c.
3) Tingkat pendidikan mereka rendah,
tidak sampai tamat sekolah dasar, karena harus membantu orang tua mencari
tambahan penghasilan
4) Kebanyakan
tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5) (self
employed)berusaha apa saja.
6) Banyak
yang hidup di kota berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan.
3.
Fungsi Kemiskinan
Fungsi dari kemiskinan antara lain:
§ Kemiskinan menyediakan tenaga kerja untuk
pekerjaan-pekerjaan kotor, tak terhormat, berat, berbahaya, namun dibayar
murah. Orang miskin dibutuhkan untuk membersihkan got-got yang mampet, membuang
sampah, menaiki gedung tinggi, bekerja di pertambangan yang tanahnya mudah
runtuh, jaga malam. Bayangkan apa yang terjadi bila orang miskin tidak ada.
Sampah bertumpuk, rumah dan pekarangan kotor, pembangunan terbengkalai, Banyak
kegiatan ekonomi yang melibatkan pekerjaan kotor dan berbahaya yang memerlukan
kehadiran orang miskin
§ Kemiskinan memperpanjang nilai-guna barang atau jasa.
Baju bekas yang tak layak pakai dapat dijual (diinfakkan) kepada orang miskin,
termasuk buah-buahhan yang hampir busuk, sayuran yang tidak laku, Semuanya
menjadi bermanfaat (atau dimanfaatkan) untuk orang-orang miskin.
§ Kemiskinan mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang
menguntungkan orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena dibayar murah,
mengurangi biaya produksi dan akibatnya melipatgandakan keuntungan. Petani
tidak boleh menaikkan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang kota.
§ Kemiskinan menyediakan lapangan kerja. Karena ada orang
miskin, lahirlah pekerjaan tukang kredit, aktivis-aktivis LSM yang menyalurkan
dana dari badan-badan internasional, dan yang pasti berbagai kegiatan yang
dikelola oleh departemen sosial. Tidak ada komoditas yang paling laku dijual
oleh Negara Dunia Ketiga di pasar internasional selain kemiskinan.
• Memperteguh status sosial orang kaya.
• Bermanfaat untuk jadi tumbal pembangunan. Supaya tidak menganggu ketertiban dan keindahan kota, pedagang kakilima bila mengganggu lalulintas ditertibkan (ditangkap, dagangannya diambil, dan kerugiannnya tidak diganti).
• Memperteguh status sosial orang kaya.
• Bermanfaat untuk jadi tumbal pembangunan. Supaya tidak menganggu ketertiban dan keindahan kota, pedagang kakilima bila mengganggu lalulintas ditertibkan (ditangkap, dagangannya diambil, dan kerugiannnya tidak diganti).
BAB 10. AGAMA DAN MASYARAKAT
10.1 Fungsi Agama
Fungsi
agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu
kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian.
Teori
fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud
suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan
sistem sosial yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang
berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, setiap saat
mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret
terjadi di sekeliling.
Fungsi
agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan
yang
bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam
setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan memaksa istimewa, karena
ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supramanusiawi dan ukhrowi.
§ Ø Fungsi agama di
bidang sosial adalah fungsi penentu, di mana
agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di antara
anggota-anggota beberapa mayarakat maupun dalam
kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka.
§ Ø Fungsi agama
sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada
saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam
tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan
berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua di mana
pun tidak mengabaikan upaya “moralisasi”
anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk
memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai
tujuan tersebut harus beribadat dengan kontinyu dan teratur, membaca kitab suci
dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras,
hidup secara sederhana, menahan diri dari tingkah laku yang tidak jujur, tidak
berbuat yang senonoh dan mengacau, tidak minum-minuman keras, tidak
mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan tidak berjudi. Maka perkembangan
sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya.
Dimensi Agama
Masalah
fungsionalisme agama dapat dinalisis lebih mudah pada komitmen agama, menurut
Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek,
pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi.
1.
Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau
harapan bahwa orang yang religius akan
menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran
ajaran-ajaran agama.
2.
Praktek agama mencakup
perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan
komitmen agama secara nyata. Ini menyangkut, pertama, ritual, yaitu berkaitan
dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, dan perbuatan
mulia. Kedua, berbakti tidak bersifat formal dan tidak bersifat publik serta relatif spontan.
3.
Dimensi pengalaman
memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang
benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung
dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan, meskipun singkat,
dengan suatu perantara yang supernatural.
4.
Dimensi pengetahuan dikaitkan
dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi
tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan
tradisi-tradisi keagamaan mereka.
5. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan
tingkah laku perseorangan dan
pembentukan citra pribadinya.
10.2 Pelembagaan Agama
1.
Kaitan Agama dalam Masyarakat.
Kaitan agama dengan masyarakat dapat
mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secra utuh
(Elizabeth K. Nottingham, 1954) Tipe-Tipe Kaitan Agama dalam Masyarakat :
·
Masyarakat yang terbelakang dan
nilai-nilai sakral.
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang.
Anggota masyrakat menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka
dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke
dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya :
ü Agama memasukkan pengaruhnya yang sacral ke dalam system
nilai masyarakat secra mutlak.
ü Dalam keadaan lain selain keluarga relatif belum
berkembang, agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan
dari masyarakat secara keseluruhan.
·
Masyarakat praindustri yang
sedang berkembang.
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan
teknologi yang lebih tinggi darpada tipe pertama. Agama memberikan arti dan
ikatan kepada system nilai dalam tiap mayarakat ini, tetapi pada saat yang sama
lingkungan yang sacral dan yang sekular itu sedikit-banyaknya masih dapat
dibedakan.
·
Masyarakat- masyarakat industri
sekular
Masyarakat industri bercirikan dinamika dan teknologi
semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian-
penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah penyesuaian-
penyesuaian dalam hubungan kemanusiaan sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi mempunyai konsekuensi penting bagi agama, Salah satu akibatnya
adalah anggota masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode empiris
berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalah kemanusiaan,
sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas. Watak masyarakat
sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak terlalu memberikan tanggapan
langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama, praktek agama, dan
kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.
2.
Pelembagaan Agama
Pelembagaan agama adalah suatu tempat atau
lembaga untuk membimbing, membina dan mengayomi suatu kaum yang menganut agama.
Pelembagaan Agama di Indonesia yang mengurusi agamanya
·
Islam : MUI
MUI atau
Majelis Ulama Indonesia adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama,
zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi
kaum muslimin di seluruh Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada
tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 juli 1975 di
Jakarta, Indonesia.
·
Kristen
a. Kristen
: Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI)
PGI (dulu disebut Dewan Gereja-gereja di Indonesia – DGI)
didirikan pada 25 Mei 1950 di Jakarta sebagai perwujudan dari kerinduan umat
Kristen di Indonesia untuk mempersatukan kembali Gereja sebagai Tubuh Kristus
yang terpecah-pecah. Karena itu, PGI menyatakan bahwa tujuan pembentukannya
adalah “mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.”
b. Katolik : Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI atau Kawali) adalah
organisasi Gereja Katolik yang beranggotakan para Uskup di Indonesia dan bertujuan
menggalang persatuan dan kerja sama dalam tugas pastoral memimpin umat Katolik
Indonesia. Masing-masing Uskup adalah otonom dan KWI tidak berada di atas
maupun membawahi para Uskup dan KWI tidak mempunyai cabang di daerah. Keuskupan
bukanlah KWI daerah. Yang menjadi anggota KWI adalah para Uskup di Indonesia
yang masih aktif, tidak termasuk yang sudah pensiun. KWI bekerja melalui
komisi-komisi yang diketuai oleh Uskup-Uskup. Pada 2006 anggota KWI berjumlah
36 orang, sesuai dengan jumlah keuskupan di Indonesia (35 keuskupan) ditambah
seorang uskup dari Ambon (Ambon memiliki 2 uskup).
·
Hindu : Persada
Parisada
Hindu Dharma Indonesia ( Parisada ) ialah: Majelis tertinggi umat Hindu
Indonesia.
·
Budha : MBI
Majelis
Buddhayana Indonesia adalah majelis umat Buddha di Indonesia. Majelis ini
didirikan oleh Bhante Ashin Jinarakkhita pada hari Asadha 2499 BE tanggal 4
Juli 1955 di Semarang, tepatnya di Wihara Buddha Gaya, Watugong, Ungaran, Jawa
Tengah, dengan nama Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) dan diketuai
oleh Maha Upasaka Madhyantika S. Mangunkawatja.
·
Konghucu : Matakin
Majelis
Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (disingkat MATAKIN) adalah sebuah organisasi
yang mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. Organisasi ini
didirikan pada tahun 1955.
Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta
lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak
berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau
pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok
yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah
satu di antara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman
dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama
Negara.
10.3 Agama, Masyarakat dan
Konflik
·
Faktor Konflik Agama
Terjadinya konflik tersebut tentunya
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Karena tidak adanya keampuhan Pancasila dan UUD 45 yang
selama ini menjadi pedoman bangsa dan negara kita mulai digoyang dengan adanya
amandemen UUD 45 dan upaya merubah ideologi negara kita ke ideologi agama
tertentu.
2. Kurangnya rasa menghormati baik antar pemeluk agama satu
dengan yang lainnya ataupun sesame pemeluk agama.
3. Adanya kesalahpahaman yang timbul karena adanya kurang
komunikasi antar pemeluk agama.
·
Contoh Konflik dalam Agama
a. Konflik Poso
Dalam laporan Pemda Poso tertanggal 7 Agustus
2001 dinyatakan antara lain bahwa kerusuhan Poso diawali sebuah kasus
kriminalitas biasa (perkelahian) antara beberapa oknum pemuda. Namun dalam
waktu singkat berkembang sedemikian rupa menjadi isu SARA, sehingga mengundang
konflik massa yang tidak terkendali dan mengakibatkan timbulnya kerusuhan.
Berkembangnya masalah kriminalitas tersebut menjadi isu SARA tidak berjalan
dengan sendirinya, tetapi telah dimananfaatkan dan direkayasa sedemikian rupa
menjadi sebuah isu SARA oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan
latar belakang kepentingan tertentu. Karena itu persoalan yang memicu timbulnya
kerusuhan bukanlah masalah SARA, tetapi masalah kriminalitas yang dikemas dalam
simbol-simbol SARA.
Dari laporan jurnalistis, konflik Poso
disebut sebagai tragedi tiga babak. Kerusuhan pertama berlangsung tanggal 25-30
Desember 1998, yang kedua 15-21 April 2000,sedangkan kerusuhan ketiga tanggal
23 Mei-10 Juni 2001. Rentetan peristiwa kerusuhan Poso menurut paparan
Sinansari Ecip dan Darwin Daru, konflik Poso dimulai dari kerusuhan pertama
pada tanggal 25 Desember 1998 (kebetulan Natal dan bulan puasa) karena
pertikaian dua pemuda yaang berbeda agama. Pertikaian itu terus berlanjut
hingga mengundang kelompok massa untuk melakukan aksi yang anarkis.Konflik
individual ini kemudian melibatkan kelompok pemuda agama (masing-masing
perwakilan dari korban dan pelaku yang berbeda agama) yang berlanjut ke
pembakaran toko dan rumah-rumah warga yang sebelumnya tidak terlibat.
b. Bentrok di kampus Sekolah Tinggi
Theologi Injil Arastamar
Adanya bentrok di kampus Sekolah Tinggi
Theologi Injil Arastamar (SETIA) dengan masyarakat setempat hanya karena
kesalahpahaman akibat kecurigaan masyarakat setempat terhadap salah seorang
mahasiswa SETIA yang dituduh mencuri, dan ketika telah diusut Polisi tidak
ditemukan bukti apapun. Ditambah lagi adanya preman provokator yang melempari
masjid dan masuk ke asrama putri kampus tersebut. Dan bisa ditebak, akhirnya
meluas ke arah agama, ujung-ujungnya pemaksaan penutupan kampus tersebut oleh
masyarakat sekitar secara anarkis.
c. Konflik Palestina dengan Israel
Konflik antara Palestina dan Israel telah
berlangsung lama sejak tahun 1947. Pada masa itu tepatnya pada bulan Mei,
dilakukan pembagian wilayah antara Israel dan Palestina yang dilakukan oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hasil dari pembagian wilayah adalah 54% dari
wilayah diserahkan untuk Israel sedangkan sisanya untuk Palestina yakni 46%.
Apabila ditinjau dari segi jumlah penduduk yang ada antara Israel dan
Palestina, prosentase masyarakat Israel yakni bangsa Yahudi hanya berkisar 31,5
% dari populasi yang ada. Hal inilah yang menimbulkan reaksi balik dari rakyat
Palestina yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah mereka sendiri. Sementara
bangsa Yahudi menganggap pembagian yang telah dilakukan itu tidaklah cukup.
Mereka menginginkan wilayah yang lebih luas. Sejak itulah terror yang meluas
terhadap rakyat Palestina. berlangsung. Pada tanggal 9 April 1948 dilancarkan
pembantaian massal, serangan yang dilakukan milisi Irqun dan sebanyak 259
penduduk tewas. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 1948 bangsa Yahudi mendeklarasikan kemerdekaannya
sebagai negara Israel. Tanah yang menjadi sengketa antara kedua bangsa
merupakan koloni dari Inggris setelah perang dunia I. bangsa Yahudi
menginginkan negrinya berdiri sendiri diatas tanah tersebut sementara di tanah
tersebut juga didiami bangsa Palestina. Populasi bangsa Yahudi saat itu hanya
56.000 sedangkan Palestina mencapai satu juta.
Sengketa ini terus berjalan seiring dengan
tekanan yang dilakukan oleh penguasa Israel. Tentara Israel melakukan
penyerangan salah satunya adalah
Ramallah, di kawasan Tepi Barat , Palestina. Israel mengawali blokade di
Ramallah dengan mengirim anggota Batalion Egoz. Tentara Israel memburu warga
Palestina khususnya yang dianggap sebagai teroris Kondisi seperti itu membuat
warga dan petinggi pemerintah Palestina meradang. Apalagi respon dunia
khususnya Amerika Serikat sangat lambat. Bahkan hampir dapat dikatakan tidak
ada tindakan berarti untuk menyetop pendudukan di jantung Palestina. Di kota
itu, sejak tahun 1996, seiring ditariknya pasukan Israel otoritas Palestina di
bawah Arafat mengatur dan mengendalikan roda pemerintahan layaknya sebuah
negara. Kota ini dipilih sebelum ibu kota definitive Palestina yaitu Yerussalem
terwujud.Selain mengepung dan menyerang kota Ramallah pasukan Israel juga melakukan
serangan kilat ke Tepi Barat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari, Kota
Jenin, Tulkarem, Betlehem Qalqilya dan Nablus di Tepi Barat secara de facto
berada dalam kontrol Israel.
Rakyat Palestina yang merasa terusir dari
daerah yang mereka diami selama ratusan tahun tidak tinggal diam saja. Mereka
terus melancarkan perang terhadap Israel sehingga muncullah perang yang terjadi
antara tahun 1948, 1967 dan tahun 1971.
Perjuangan rakyat Palestina untuk merebut kembali wilayahnya bergabung
dalam suatu organisasi yaitu PLO. September tahun 1982 terjadi pembantaian
besar-besaran atas pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatila
yang menewaskan 2700 pengungsi hanya dalam waktu 1 jam. Palestina sendiri
akhirnya membentuk milisi yang dikenal dengan Intifada.Perlawanan dari rakyat
Palestina bergulir sejak tahun 1987. Israel sendiri berusaha untuk meredam
dengan upaya memberikan konsensi pada perjanjian Oslo di tahun 1993 mengenai
kesepakatan antara Israel dan Palestina yang akan memberikan kesempatan
kemerrdekan bagi bangsa Palestina telah dilanggar pada tahun 1998. Harapan
rakyat Palestina atas kemerdekaannya dengan berdirinya Palestina di Tepi Barat
dan Jalur Gaza dengan ibukota Yerusalem Timur ternyata mengalami kegagalan
karena perjanjian tersebut dianggar oleh Israel.Sebaliknya dengan perjanjian
tersebut semakin memperjelas kuatnya kontrol Israel atas daerah Tepi Barat dan
Jalur Gaza. Kebijakan apartheid yang membedakan waran dan bersifat sangat
diskriminatif diterapkan. Israel sendiri telah menguasai perekonomian di daerah
Tepi Barat baik tanah maupun sumberdaya alamnya, dengan ditopang dengan
kekuatan militer yang berfungsi untuk terus mengawasi rakyat Palestina.
Perlawanan Intifada bergolak pada akhir September 2001 setelah terjadiya bentrokan
antara Palestina dan Israel dipicu oleh kedatangan Ariel Sharon yang dianggap
bertanggungjawab atas pembantaian di kamp pengungsian Sabra dan Shatila. Pada
bentrokan ini 7 orang Palestina tewas dalam Mesjid Al Aqsa.Sampai saat ini
konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel terus berlanjut sementara
berulang kali telah dilakukan perjanjian-perjanjian perdamaian antara kedua
belah pihak tetapi terus menerus mengalami kegagalan diakibatkan oleh
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Harwantiyoko,
F.Katuuk Neltjie, MKDU Ilmu Sosial Dasar, Seri Diktlat Kuliah, Penerbit
Gunadarma, Januari, 1997
Tidak ada komentar:
Posting Komentar