PERGAULAN
BEBAS DI KALANGAN PELAJAR
(Studi Kasus di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan
Masaloka Raya Kabupaten Bomabana)
Oleh: Siti Suhaida, H.
Jamaluddin Hos, Ambo Upe Abstrak
Penelitian ini bertujuan
untuk 1) Mengetahui penyebabkan munculnya perilaku pergaulan bebas di Desa
Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten Bombana; 2) Mengetahui
dampak pergaulan bebas bagi pelajar di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan
Masaloka Raya Kabupaten Bombana. Penelitian ini dilakukan di Desa Masaloka
Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten Bombana; Pendekatan penelitian yang
digunakan yaitu pendekatan penelitian kualititatif. Teknik pengumpulan data
dengan menggunakan teknik wawancaraa, observasi, dan dokumentasi.Untuk teknik
penentuan informan menggunakan teknik Snowballin Sampling. Teknik analisis data
yang digunakan yaitu analisis model interaktif menggunakan tiga tahapan yaitu
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil
penelitian ini menujukkan bahwa pergaulan bebasdi kalangan pelajar di Desa
Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten Bombanadisebabkan oleh
pergeseran budaya, kurangnya perhatian orang tua, teman dekat, dan media dari
berbagai faktor tersebut berdampak pada menurunyaprestasi pelajar, putus
sekolah danhamil di luar nikah.
Kata Kunci: Modernisasi, Pergualan Bebas, Pelajar.
PENDAHULUAN
Penelitian
tentang pergaulan bebas telah banyak diteliti baik di tingkat nasional maupun
internasional.Pergaulan bebas identik dengan pergaulan remaja yang menyimpang
dan yang biasanya mengarah terhadap perbuatan seks.Di zaman yang semakin
berkembang semakin beragam pula tingkah laku serta masalah sosial yang terjadi
di masyarakat terutama masalah remaja.Perkembangan teknologi sekarang ini telah
banyak memberi pengaruh buruk bagi remaja sehingga menyebabkan terjadinya kenakalan remaja.Masa remaja
merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke
tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola
perilaku, dan juga penuh dengan masalah-maslah (Hurlock, dalam Roy, 2011).
Remaja yang disebabkan orang tuanya yang terlalu kejam, tidak dapat
menyesuaikan didikan dengan keperluan anak untuk berautonomi, ataupun
sebaliknya menyebabkan orang tua tersebut tidak peduli untuk memantau
perkembangan sosial anak tersebut (Dishion, Patterson, Stoolmiller, Skinner
(1991) Fuligni dan Eccles (1993). Pelajar seperti ini berpotensi untuk mencari
teman sebaya yang mempunyai masalah yang kemudian menjadi faktor penarik untuk
terlibat dalam gejala sosial. Kekecewaan terhadap keluarga ataupun lingkungan
sekitarnya terus berpengaruh kepada perilaku remaja yang menyimpang untuk
mengespresikan perasaanya (Nor Ba’yah, 2004) rasa untuk disayangi menyebabkan
individu resah takut ditinggalkan dan sanggup melakukan apa saja untuk
mendapatkan kasih sayang
(Bartholomew dan Horowitz, 1991). Pelajar yang merasakan diri mereka
dilamun cinta mereka tidak dapat mengendalikan persahabatan yang sehat
sebaliknya terlalu obsesif, ataupun terlalu mengikut perintah teman sebaya
ataupun orang tersayang sehinggakan terjalinnya pergaulan bebas (Rubiah, 2001).
Kegagalan menangani hubungan menjadikan remaja dan individu awal dewasa
terjebak dalam gejala sosial seperti perzinaan, kehamilan luar nikah, kelahiran
anak luar nikah, pengguguran bayi, dan sebagainya.Selain dari pada itu, cinta
yang tidak terurus mengakibatkan kebanyakan pelajar mengalami kegagalan dalam
pelajaran.
Pakar
seks juga spesialis Obstentri dan Ginekologi Boyke Dian Nugraha di Jakarta
mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks
bebas semakin meningkat. Dari sekitas 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada
tahun 2000 kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai
penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya,
Palu, Banjarmasin, bahkan di Palu Sulawesi Tengah, pada tahun 2000 lalu
tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks bebas mencapai 29,9%
sementara penelitian yang dilakukan oleh Boyke sendiri tahun (1999) lalu
terhadap pasien yang datang di klinik pasutri, tercatat sekitar 18% remaja
pernah melakukan hubungan seksual pranikah, kelompok remaja yang masuk pada
penelitian tersebut rata-rata berusia 17-
21 tahun, umumnya masih bersekolah di tingkat sekolah
lanjutan tingkat atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun beberapa kasus juga terjadi
pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Gunawan, 2011).
Pada sebuah penelian nasional (survei nasional mengenai tingkah laku
beresiko pada remaja/national youth risk
behavior survey), 54% remaja yang duduk di kelas 3 SMP sampai 3 SMU
mengatakan bahwa mereka telah melakukan hubungan seksual. Penelitian lain
menunjukan bahwa remaja laki-laki lebih cenderung mengatakan telah melakukan
hubungan seks dan aktif secara seksual dari pada remaja perempuan. (Hayes dalam
Santrock, 2003).
Permasalahan
pergaulan bebas ini sudah merajalela baik di kalangan pelajar dengan alasan
mulai dibilang gaul dan demi mencari kesenangan semata, misalnya yang terjadi
di Desa Masaloka dimana dulu sangat menjunjung tinggi rasa malu dan menjaga
perilaku agar tidak menjadi bahan gunjingan, namun kini hal yang dianggap tabu
ini seolah menjadi hal yang biasa untuk dipertontonkan, misalnya fenomena
berpacaran dikalangan pelajar bukan hal yang asing lagi untuk dibicarakan
karena kita bisa melihat fenomena berpacaran dimana saja, berpelukan,
berpegangan, berdua-duaan, merokok, minuman keras bisa kita temui di Desa
Masaloka karena miras dianggap sebagai penyambung tali silaturahim diantara
kaum laki-laki di Desa Masaloka. Dahulu orang yang berdua-duaan dianggap sebagai
orang yang tidak memiliki rasa malu, apa lagi sampai berpelukan dan berciuman,
sangat ditentang oleh masyarakat dan langsung terkena hukum adat dengan cara
dinikahkan atau membayar uang adat, yaitu dengan cara kawin cerai dimana pihak
laki-laki wajib untuk membayar uang adat kepada pihak perempuan sesuai dengan
jumlah uang yang diminta oleh pihak perempuan. Tetapi kawin cerai itu berlaku apa bila di
sepakati oleh kedua belah pihak untuk tidak dilanjutkan dijenjang
keseriusan, Namun seiring perkembangnya zaman kini kebudayaan mulai bergeser
secara perlahan-lahan dan norma-norma yang berlaku kini seolah memudar sehingga
kasus pacaran di Desa Masaloka dianggap biasa, dan kasus pelajar yang hamil di
luar nikah sudah marak terjadi yang menyebabkan beberapa faktor yaitu dimana
mereka harus putus sekolah, pernikahan dini yang meningkat, perceraian, yang
terjadi di Desa Masaloka.
Berdasarkan
pernyataan di atas memberikan asumsi bahwa pergaulan bebas yang terjadi di Desa
Masaloka perlu penanganan yang serius karena hal ini merupakan hal yang sangat
penting demi masa depan pelajar yag lebih baik perilaku menyimpang yang terjadi
hanya akan membawa banyak dampak buruk jika tidak di tangani karena akan
semakin banyak masalah yang timbul dari adanya pergaulan bebas di kalangan
pelajar. Mengingat pelajar adalah merupakan agen pembaharu maka pelajar perlu
sosialisasi filter yang baik agar tidak terjadinya penyimpangan. Melihat
fenomena yang telah dipaparkan di atas maka ada dua hal yang menjadi
permasalahan sebagai berikut: Apa yang meyebabkan munculnya pergaulan bebas di
kalangan pelajar di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupten
Bombana?. Bagaiamana Dampak pergaualan bebas di kalangan perlajar di Desa
Masaloka Kecamatan Kepulauan Masalaoka Raya Kabupaten Bombana?.
METODE PENELITIAN
Adapun
lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka
Raya Kabupaten Bombana, dengan pertimbangan wilayah tersebut terdapat interaksi
sosial di kalangan pelajar yang memiliki indikasi pada perilaku pergaualan
bebas dan penelitian ini dilakukan kurang lebih dua minggu sampai data yang
diperlukan sudah akurat.Dalam menentukan informan dilakukan dengan menggunakan
teknik Snowballing Sampling, yaitu penentuan informan yang dilakukan secara
bertahap. Adapun informan dalam penelitian ini yaitu Pelajar SMP dan SMA yang
ada Desa Masaloka.Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yang
dimana data kualitatif telah disajikan dalam bentuk narasi memberikan gambaran
untuk mendeskripsikan mengenai perilaku pergaulan bebas pelajar di Desa
Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten Bombana. Adapun jenis
sumber data dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.
Pada
pengumpulan data primer, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data
antara lain observasi dan wawancara. Observasi merupakan salah satu metode yang
dapat digunakan untuk memperoleh informasi tentang fokus penelitian. Fokus
pengamatan berupa peristiwa, perilaku dan ekpresi-ekpresi orang- orang dalam
keadaan (setting) dimana mereka
berada. Pada metode ini dipelukan kepekaan seorang peneliti terhadap situasi
atau setting dimana pengamatan dilakukan. Sedangkan wawancara merupakan teknik
pengumpulan data/informasi melalui tanya jawab secara langsung kepada informan.
Analisis data kualitatif terdiri
dari alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data,
penyajian data dan verifikasi. Teknik analisis data yang digunakan untuk
menganalisis penelitian ini adalah analisis data model interaktif, dengan
teknik ini setelah data terkumpul dilakukan analisa yang terdiri dari tiga
komponen yaitu reduksi data, model data dan penarikan/verifikasi kesimpulan
sebagaimana dimaksudkan oleh Miles dan Huberman (dalam Upe dan Damsid, 2010).
PEMBAHASAN
Faktor terjadinya pergaualan bebas
1. Pergeseran Budaya
Desa
Masaloka merupakan daerah pesisir yang kental akan kebuadayaan lokal namun
zaman telah berbeda dan kebudayaan lokal mulai bergeser tidak ada batasan dalam
bergaul remaja memiliki pola tersendiri dalam bergaul, hal ini menyebabkan terjadinya
pergaulan bebas di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten
Bombana dimana di Desa Masaloka semakin berkembangnya zaman nilai-nilai dan
norma sosial secara perlahan semakin memudar dimana para pelajar disana semakin
bebas dalam bergaul dan karena aturan yang sudah dipercayai secara
turun-temurun oleh nenek moyang sampai masyarakat setempat dianggap kolot dan
sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang yang serba modern karena mereka
beranggapan kalau kita akan semakin tertinggal jika tidak mengikuti
perkembangan zaman. Deskripsi ini dimulai dari profil dan ilustrasi yang
dialami dalam proses penelitian dan merupakan informasi langsung dari informan
yang bersangkutan.
2. Kurangnya Perhatian Orang Tua
Dalam
penelitian ini menjelaskan tentang pergaulan bebas dimana ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi
pembentukan pribadi seseorang. Keyakinan- keyakinan, pemikiran dan perilaku
ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap
pemikiran dan perilaku anak.Karena kepribadian manusia muncul berupa
lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan
keluarga.Pada pelajar yang ada di Desa Masaloka, para pelaku pergaulan bebas
merupakan anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya
karena sebagian besar mereka tinggal bersama nenek mereka karena di Desa
Masaloka sebagian besar matapencaharianya adalah berdagang sehingga banyak dari
masyarakat Masaloka pergi beradu nasib di rantau orang karena pendapatan yang
mereka dapatkan cukup menjanjikan. Namun diakibatkan dari hal tersebut
menyebabkan banyak anak yang berperilaku menyimpang, karena salah satu faktor
penyebab pergaulan bebas di kalangan pelajar adalah orang tua.
3. Teman Dekat
Pelajar
di Desa Masaloka lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya
menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman sekolahnyahal tersebut secara
tidak langsung dapat mempengaruhi sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan
perilaku. Teman dekat lebih besar pengaruhnya dari pada keluarga misalnya, di
Desa Masaloka jika temanya mengenakan model pakaian yang sama dengan
pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk dapat
diterima oleh kelompok menjadi lebih besar demikian pula bila anggota kelompok
mencoba minum alkohol, dan merokok, maka pelajar cenderung mengikuti tanpa
memperdulikan akibatnya.
4.
Media
Realitas
di Desa Masaloka media sudah menjadi kebutuhan anak muda zaman sekarang,
sehingga dari media yang tersedia dengan berbagai aplikasi memudahkan mereka
untuk mengakses menonton atau melihat hal-hal yang belum pantas untuk ditonton
oleh anak-anak, seperti yang telah dilihat media tidak digunakan secara arif
oleh pelajar karena banyak situs yang berbau pornografi dapat dengan mudah
diaskses hal ini akan berakibat buruk. apalagi jika tidak ada kontrol yang baik
terhadap informasi yang sesuai bagi remaja. Dapat kita ketahui peran sosial
media untuk saat ini sudah mulai keluar dari jalannya.Dalam arti banyak
diantaranya menyalahgunakan sosial media dalam melakukan suatu hal keburukan
sehingga hal tersebut menjadi kerugian dari sosial media tersebut.
Dampak
Perilaku Pergaulan Bebas
1. Menurunya Prestasi
Sekolah
Desa
Masaloka banyak pelajar yang mengalami masalah dalam belajar diakibatkan karena
kasus kasmaran membuat mereka kurang fokus dalam belajar dan tidak enak dalam
melakukan apapun jika sedang patah hati atau sedang kasmaran karena waktu untuk
belajar menjadi berkurang, karena mereka lebih banyak berfokus kepada
kekasihnyakarena pada usia 15 tahun keatas pelajar sudah mula meraba-raba
banyak hal keingintahuannya akan memuncak dan tidak sedikit pelajar terjerumus
dalam pergaulan yang salah akibat dari pengaruh kurangnya pengawasan orang tua
menyebabkan para pelajar lebih banyak mencari kesenangan diluar rumah, ngumpul,
jalan dan sebagainya dengan teman-teman yang membuat banyak anak disana
mengalami penurunan prestasi belajar, karena lingkunga pergaulan yang kurang
baik sehingga menurunkan motivasi belajar siswa.
2. Putus Sekolah
Akibat
pergaulan yang di luar batas di Desa Masalokaselain seperti seks bebas,
narkoba, minum-minuman keras. Pada saat sekarang ini pergaulan bebas telah
merambah ketingkat SMA dan SMP semua ini terjadi karena pergaulan bebas.Dampak
negatif dari pergaulan bebas yang terjadi di Desa Masaloka adalah terjadinya
putus sekolah.Karena mereka lebih memilih mengutamakan ego ketimbang akal sehat
dan realita yang ada, akibatnya adalah meningkatnya kemiskinan karena kurangnya
pendidikan dan semakin bodohnya masyarakat menjadi sesuatu yang sering terjadi.
Akibat dari pergaulan bebas cenderung membuat sikap mental anak menjadi kurang
sehat, efeknya dari sikap mental inilah yang akan membuat banyak anak remaja
merasa bangga atas pergaulan mereka, padahal pergaulan dilakukanya tidak sepantasnya.
3.
Hamil di Luar Nikah
Hal
ini juga terjadi di Desa Masaloka dimana fenomena hamil diluar nikah selalu ada
di Desa Masaloka sehingga ini sudah dianggap biasa karena disana banyak sekali
terjadi hamil diluar pernikahan.Pergaulan bebas yang terjadi mengakibatkan
hamil di luar nikah ini akibat dari gaya berpacaran yang semakin tidak
terkontrol pergi di tempat-tempat tersembunyi untuk melampiaskan nafsu birahi
mereka, kasus hamil diluar nikah seperti yang dialami informan kami dimana
hamil di luar nikah ternyata bukan hanya kali ini terjadi tetapi
sebelum-sebelunya sudah banyak terjadi sehingga masyarakat sudah tidak asing
lagi dengan fenomena jika terjadi kasus hamil di luar nikah, namun ini menjadi
keresahan masyarakat karena mereka merasa takut jikalau hal tersebut terjadi
kepada putri mereka karena hal seperti itu bukanlah hal yang tidak mungkin
untuk tidak terjadi.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil penelitian penulis dapat menarik
kesimpulan sebagai berikut:
1.
Faktor-faktor penyebab pergaulan
bebas di kalangan pelajar di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya
Kabupaten Bombanayaitu adalah:
a.
Pergeseran Budaya
Pergeseran
budaya yang meneyebabkan pergaulan bebas yaitu dimana hukum adat sudah mulai
bergeser dari yang mempunyai budaya malu yang sangat tinggi dan menjaga
perilaku agar tidak menjadi gunjingan serta budaya lokal yang sangat kental,
kini pelajar semakin bebas dalam bergaul dan berperilaku karena mereka
mempunyai pola tersendiri dalam bergaul, sehingga aturan yang sudah dipercayai
secara turun-temurun oleh nenek moyang sudah dianggap kolot dan tidak sesuai
dengan zaman sekarang.
b.
Kurangnya Perhatian Orang Tua
Yaitu
dimana anak diberi kebebasan dalam bergaual tanpa pengawasan dan perhatian
orangtua dalam menjaga dan mengontrol pergaulan anak.
c.
Teman Dekat
Teman
dekat yang menyebabkan pergaulan bebas adalah dimana pelajar ikut melakukan
hal-hal seperti minum alkohol, merokok atau, melakukan hal- hal yang menyimpang
lainya atas dasar ajakan teman maka pelajar cenderung mengikuti tanpa
mempedulikan akibat yang ditibulkan.
d.
Media
Media
yang menyebabkan pergaulan bebas karena adanya kemudahan pelajar dalam
mengakses video atau sumber-sumber pornografi yang mengakibatkan kerusakan
mental dan mempengaruhi otak pelajar untuk mencoba hal-hal yang dilihatnya.
2.
Adapun dampak dari pergaulan bebas
di kalangan pelajar di Desa Masaloka yaitu:
a.
Menurunya Prestasi
Sekolah
Disebabkan
pergaulan bebas, kurangnya pengawasan orangtua dalam pendidikan anak pelajar
akan bebas melakukan hal-hal yang akan menurunkan prestasi sekolahnya seperti
dengan adanya kemudahan pelajar dalam mengakses video, game dan sumber-sumber
lain yang dapat mempengaruhi segala macam aktivitas dalam belajar yang
mengakibatkan menurunya prestasi sekolah.
b.
Putus Sekolah
Disebabkan
pengaruh pergaulan bebas teman juga menjadi salah satu faktor sangat
berpengaruh terhadap pelajar, kebebasan yang diberikan orangtua terhadap anak
menyebabakan anak berperilaku semaunya dan akibatnya pelajar kurang mendapatkan
motivasi belajar.
c.
Hamil di Luar Nikah
Disebabkan
adanya pergaulan bebas pelajar melakukan hubungan badan tanpa ikatan
pernikahan, hal ini juga disebabkan kurangnya kontrol dari orang tua dan
bergesernya serta memudarnya budaya lokal yaitu budaya malu sehingga pelajar
dengan bebas melakukan hal-hal yang tidak senonoh yang berakibat pada hamil di
luar nikah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang peneliti ajukan
serta pengalaman peneliti selama penelitian ini dilaksanakan, maka peneliti
memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.
Bagi Remaja
Sebagai
harapan masa depan bangsa, seharusnya remaja mengetahui benar tanggung jawab
dan kewajiban besar yang dibebankan di bahu mereka. Oleh karena itu, agar tidak
terjerumus ke hal-hal negatif yang merugikan diri sendiri maupun pihak lain,
maka mahasiswa harus membentengi diri dengan cara memperdalam pengetahuan
agama, yang bisa dilakukan dengan cara memperbanyak membaca buku keislaman,
rajin mengikuti ceramah keagamaan, mengikuti kegiatan/organisasi keagamaan atau
organisasi lain yang bermanfaat, bergaul dengan teman-teman yang baik. Dengan
cara-cara tersebut dapat terhindar dari pengaruh buruk lingkungan yang akan
menjerumuskan dalam perbuatan maksiat, yang merupakan pelanggaran terhadap
agama maupun norma masyarakat.
2.
Bagi Lembaga Pendidikan
Untuk
menekan adanya perilaku pergaulan bebas di kalangan remaja Desa Masalokamaka
para pendidik harus turut memperhatikan pelajar. Misalnya dengan menerapkan
peraturan berperilaku yang baik yang sesuai norma agama yang berlaku serta
kesopanan dalam berpakaian harus diatur, selayaknya pakaiannyajangan
terbuka/ketat, dan bagi pelanggarnya ada sanksinya pula. Karena salah satu
faktor penyebab munculnya pergaulan bebas adalah rendahnya pendidikan
nilai-nilai Islam.Selain itu dengan menghidupkan/mengaktifkan kegiatan-kegiatan keagamaan
di
sekolah mestinya yang kontinyu/ rutin.
3.
Bagi Orang Tua
Sikap
orang tua yang kurang memperhatikan anak bahkan untuk hal kecil/sepele seperti
carabergaul dan berpakaian ternyata berpengaruh terhadap perilaku pergaulan
bebas. Oleh karena itu, orang tua harus meluangkan waktu untuk memperhatikan
anak, serta mengontrol kegiatan mereka. Orang tua juga harus menerapkan
kedisiplinan beribadah/beragama dengan cara memberi teladan yang baik. Intinya,
orang tua harus senantiasa mendampingi anak, terutama pada masa perkembangan
dan masa transisi (peralihan) karena pada masa itulah, anak-anak mudah sekali
terpengaruh lingkungan.
4.
Bagi Tokoh/Pemuka Agama
Mengingat
bahwa agama merupakan fondasi bagi kita untuk berperilaku, maka para tokoh
agama seharusnya secara kontinyu mengadakan kajian keagamaan di tempat
masing-masing, mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan
dan ketakwaan pada Allah SWT, seperti bakti social. Sehingga dengan bekal
keagamaan yang kuat, maka kita harapkan perbuatan-perbuatan yang menyimpang pun
dapat kita berantas atau setidaknya kita tekan seminim mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Bartholomew, K., & Horowitz, L. M. 1991. Attachment
styles among young adults: A test of a four-category model. Journal of Personality and Social Psychology
61: 226244.
Dishion, T. J., Patterson, G. R., Stoolmiller, M., &
Skinner, M. L. 1991.Family, School, and Behavioral Antecedents To Early
Adolescents Involvement With Anti-Social Peers. Developmental Psychology 27: 172-180.
Gunawan. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Malang: UMM
Pres.
Nor Ba’yah Abdul Kadir. 2004. Memahami Masalah Sosial:
Rangka Teoretikal Subjektif Mengikut Konteks. Kertas Kerja Seminar Kebangsaan Ke-3 Psikologi dan Masyarakat, Gejala
Sosial Dalam Masyarakat. Pusat Latihan KWSP Bangi, 4-5 Oktober.
Roy. 2011. Pemahaman Tentang Seks Kaitanya dengan Sikap
TerhadapHubungan Seks Pranikah. Skripsi.
Fakultas Psikologi UMS.
Rubiah K. Hamzah. 2001. Teknik dan Strategi Membimbing Remaja: Menghadapi Cabaran.
Kuala
Lumpur: PTS Publications and Distributors Sdn. Bhd.
Santrock. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja.
Jakarta: Erlangga.
Upe, Ambo dan Damsid. 2010. Asas-Asas Multiple Researches: dari Norman K. Denzin hingga John W.
Creswell dan Penerapannya. Yogyakarta: Tiara Wacana.
sumber: https://media.neliti.com/media/publications/247103-pergaulan-bebas-di-kalangan-pelajar-stud-9f5076ad.pdf
sumber: https://media.neliti.com/media/publications/247103-pergaulan-bebas-di-kalangan-pelajar-stud-9f5076ad.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar